Berita Terbaru

Ekonomi Syariah, a�?Murtad Profesia�? dan Insan Syariah

No comments

Oleh: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI (Ketua Program Studi Islamic Business Law STEI Tazkia)

a�?Ekonomi Syariah adalah ekonomi yang luhura�? sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Kepala Departemen Hukum Ekonomi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat. Ungkapan ini penulis terima saat berbincang dalam acara seminar nasional tentang ekonomi syariah dan pelantikan pengurus asosiasi hukum ekonomi syariah di Bandung belum lama ini. Hal yang menarik adalah bahwa ungkapan ini bukan berasal dari seorang muslim, namun seorang akademisi berpangkat guru besar yang beragama Nasrani.

Guru Besar yang Nasrani ini memahami bahwa keluhuran ekonomi Islam telah terbukti baik secara filosofis, normatif maupun empiris, sehingga jika ada seorang muslim yang masih meragukannya maka dipertanyakan loyalitasnya terhadap Islam. Secara filosofis ekonomi Islam hadir sebagai bentuk keadilan dalam distribusi dan wasilah dalam beribadah. Secara normatif ekonomi Islam memberikan panduan dalam melakukan ektifitas ekonomi, sedangkan secara empiris maka terbukti bahwa ekonomi Islam memberdayakan fakir miskin, mengurangi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin serta mewujudkan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Namun, keluhuran ekonomi Islam seringkali dirusak justru oleh umat Islam sendiri, dalam hal ini para praktisinya. Bagaimana tidak, ketika seseorang menjadi praktisi dalam lembaga keuangan atau lembaga bisnis syariah maka selayaknya ia menjadi mujahid ekonomi syariah. Ia akan berjuang untuk ekonomi syariah dan mendedikasikan dirinya untuk perkembangan dan kemajuannya. Hal yang paling penting adalah bahwa sebagai praktisi ekonomi syariah maka sudah selayaknya untuk menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Syariah.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini pada beberapa praktisi ekonomi syariah adalah tidak atau kurangnya mereka menghiasi diri dengan nilai-nilai syariah. Beberapa dari mereka masih melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah, seperti kebiasaan menonton film tidak islami di Bisokop, kongkow-kongkow yang tidak bermanfaat, merokok, gaya hidup yang tidak Islami, jilbab hanya sebagai seragam, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya fenomena a�?Murtad Profesia�?.

a�?Murtad Profesia�? adalah satu istilah bagi seorang praktisi ekonomi syariah yang telah mengabdikan dirinya kepada ekonomi syariah namun kemudian dia keluar dan memilih bekerja pada ekonomi dan bisnis ribawi. Banyak alasan yang dikemukakan ketika keputusan ini dilakukan; pertimbangan gaji lebih besar, jabatan lebih tinggi atau tambahan fasilitas yang lebih banyak. Tentu saja ini bukan alasan yang tepat karena sejatinya tidak ada alasan untuk keluar dari ranah ekonomi syariah. Apalagi jika alasannya adalah masalah duniawiyah.

Fenomena a�?Murtad Profesia�? pernah disinggung dalam buku HRD Syariah karya dosen STEI Tazkia terbitan Gramedia Pustaka Utama. Buku tersebut mencatat bahwa terjadi fenomena di mana seorang manager lembaga keuangan syariah yang kemudian berpindah menjadi pejabat sebuah lembaga keuangan ribawiyah. Beberapa praktisi juga beralasan kepindahannya ke lembaga keuangan ribawi adalah karena hukumnya darurat, tentu saja alasan ini tidak diterima karena perkembangan ekonomi syariah sangat memungkinkan untuk mencari pekerjaan pada bidang ini.

Jika keluhuran ekonomi Islam ingin terus maju dan berkembang, maka harus dimulai dari para praktisinya. Setiap praktisi ekonomi syariah haruslah menjadi Insan Syariah (InSya), sosok insan (manusia) yang senantiasa menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Syariah Islamiyah. Insya sendiri adalah akumulasi; Inilah Makhluk SempurnaA� danA� Termulia (QS: At-Tiin: 4), Namun ia tergoda oleh Iblis dan Para Pengikutnya (QS. Al-Aa��raf: 16), Sengsara di Dunia dalam Fitnah Subhat dan Syahwat (QS. Al-Aa��raf: 25), Akankah Ia Kembali Menjadi Mulia? Atau Hancur Binasa?QS. Asy-Syams: 8, dan Norma Syariah adalahA� Sarana MengembalikanA� Kesempurnaan Manusia (QS. Al-Bayyinah: 7).

Ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap ekonomi syariah salah satunya adalah karena para praktisinya masih jauh dari nilai-nilai syariah.” Dari mulai penampilan luar yang masih menampakan nilai-nilai kapitalisme, a�?menjuala�? perempuan dengan menjadikannya sebagai bintang iklan atau front office, layanan terhadap nasabah yang masih belum sesuai dengan nilai-nilai syariah serta produk yang harus terus-menerus diperbaiki agar semakin selaras dengan syariah. Maka, mari para oraktisi ekonomi syariah untuk menghiasi diri dengan nilai-nilai Syariah. Insya Allah dengan ini ekonomi syariah akan terus maju dan berkembang serta yang lebih penting adalah penuh dengan keberkahan. Wallahu Aa��lam. (Anwar G)

Miftahul AnwarEkonomi Syariah, a�?Murtad Profesia�? dan Insan Syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *