Berita Terbaru

Pusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital

No comments

Oleh Dr. Achmad Firdaus MSi (Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah Tazkia)

Pada Workshop on Effective IT Introduction & Implementation in Business di Tokyo Jepang yang berlangsung dari tanggal 22 November sampai dengan 21 December 2001 terungkap bahwa era ekonomi baru akan tercipta sebagai respon atas revolusi bidang IT. Pelanggan akan lebih diberdayakan karena mereka dilengkapi dengan informasi yang lebih cepat. Mereka menjadi lebih mudah memilih kebutuhan secara langsung. Perusahaan akan bertransformasi sebagai reaksi atas dinamika hubungan diantara karyawan. Manajemenpun dengan cepat dapat mengambil keputusan. Sedangkan para karyawan akan semakin sering dan cepat mendapatkan pengetahuan baru melalui IT knowledge management. Struktur organisasi pun cenderung menjadi flatdengan penugasan yang besifat matrik. Dampak besar pada bidang manajemen bisnis adalah dengan semakin meluasnya Business Process Re-enginering (BPR) atau yang biasa kita kenal dengan rekaya proses bisnis.

Belum dapat diprediksikan secara tepat saat itu (tahun 2001), akibat yang dapat ditimbulkan dari evolusi rekayasa proses bisnis  dampak dari revolusi IT. Kenyataannya, 15 tahun kemudian, rekayasa proses bisnistelah berdampak pada bidang ekonomi, sosial dan hukum. Munculnya cryptocurency sebagai mata uang virtual, telah mengubah bisnis proses peredaran uang tanpa melalui bank sentral. Mata uang beroperasi secara independen. Nilai mata uang bukan ditentukan oleh bank sentral tetapi dibiarkan mengambang sesuai supply dan demand. Kondisi ini, jelas menjadi peluang besar bagi para invisible hand untuk bermain di dunia digital. Tentu saja hal ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

Rekayasa bisnis proses pada peer to peer lending (P2P) telah menghapus fungsi intermediari bank yang menghubungkan antara investor pemilik modal dengan individu maupun pelaku usaha yang membutuhkan modal. Para pelaku usaha yang unbankable, akan menjadikan format P2P sebagai kesempatan luas untuk mendapatkan pembiayaan. Namun demikian, sudah terbayang di depan mata, akan timbulnya risiko besar dari rekayasa bisnis proses P2P. Risiko bagi para pelaku P2P, regulator keuangan maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sebagai institusi pendidikan ekonomi syariah, Program Pascasarjana STEI Tazkia  bersama LPPM STEI Tazkia, memiliki kewajiban sosial untuk memberikan kontribusi pemikiran terhadap pekembangan financial technology, khususnya berkaitan dengan kesesuaian terhadap syariah. Pada tanggal 12 Agustus 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia menyelenggarakan kuliah umum dan seminar nasional yang bertema Pengembangan Ekonomi Islam pada Era Digital. Beberapa pembicara yang diundang pada acara tersebut adalah Dr. M. Syafii AntonioMec dengan materi berjudul KNKS, Jembatan menuju Era baru Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia. Dr. Erwandi Tarmizi, MA menyampaikan materi Akad-akad Ekonomi Islam Berbasis Transaksi Digital Kontemporer. Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan materi berjudul Financial Tecnology (FinTech) Menyongsong Era Baru Ekonomi Islam. Dr. Sutan Emir, M.Ec menyampaikan materi berjudul Tantangan dan peluang Financial Tecnology di Timur Tengah.

Tanggal 21 Agustus 2017, LPPM STEI Tazkia menyelenggarakan kegiatan Monday Forum yang bertemakan Pentingnya Peran FinTech Dalam Perkembangan Ekonomi Syariah. Kegiatan menghadirkan beberapa praktisi FinTech sebagai pembicara yaitu StartZakat dan Indves. Kedua nara sumber berbagi pengalaman dalam membangun teghnologi informasi pada pengelolaan zakat dan investasi.

Tanggal 30 September 2017, Program Pascasarjana STEI Tazkia dan LPPM Tazkia menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Islamic Fintech Seminar Series: Arah Dan Tantangan FinTech Syariah Di Indonesia. Seminar sehari menampilkan beberapa pembicara yang berkompeten di bidangnya, baik regulator, praktisi maupun akademisi. Seminar diadakan bersamaan pula dengan launching Pusat Studi FinTech Syariah Tazkia oleh Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec sebagai Ketua STEI Tazkia.

Dr. Hendrikus Passagi, S.Sos, M.Sc, CMBA, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan FinTech Industri Keuangan Non-Bank, Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia, menyampaikan berbagai potensi, ekosistem hingga roadmap dari pengembangan Fintech di Indonesia untuk 6 tahun kedepan. Adapun roadmap tersebut dibagi dalam lima tahap, yaitu konsolidasi, penetrasi, kolaborasi, national recognition dan global recognition.

Dr. Muhaimin Iqbal selaku Chairman dari Indonesia Startup Center, i-Grow, Ustadz Yusuf Mansur selaku Founder dari Paytren (melalui video conference dari Paris Perancis), dan Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H, selaku Deputi Infrastuktur, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pembicara membahas berbagai peluang serta tantangan yang dihadapi para penggiat Fintech, khususnya startup. Pembahasan tidak hanya seputar peluang bisnis startup Fintech Syariah, melainkan juga peran pemerintah dalam mendukung pengembangan bisnis tersebut.

Pembicara lain adalah Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc selaku Wakil Ketua STEI Tazkia, Dr. Mohammad Mahbubi Ali selaku Research Fellow dari Institute of Advanced Islamic Studies (IAES) Malaysia sekaligus Dosen Pascasarjana STEI Tazkia, Rima Dwi Permatasari selaku Kepala Divisi Dana dan Transaksi PT Bank BNI Syariah serta Eko Budhi Suprasetiawan, S.T selaku Vice President IT Operation & Application Development dari PT PEFINDO Biro Kredit.

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc menyampaikan pembahasan terkait isu legalitas, akuntansi, audit, tata kelola serta etika dalam pengembangan Fintech Syariah. Dr. Mohammad Mahbubi Ali menyoroti prinsip-prinsip syariah yang perlu diperhatikan dalam penerapan transaksi keuangan digital, seperti dalam hal produk, kontrak, biaya, hukumdan lain sebagainya. Sedangkan, Rima Dwi Permatasari SH menerangkan peran Fintech dalam menunjang kinerja industri perbankan, khususnya misi dari PT Bank BNI Syariah dalam mewujudkan wakaf hasanah untuk Indonesia. Senada dengan tiga narasumber sebelumnya, Eko Budhi Suprasetiawan, S.T membahas peran PEFINDO Biro Kredit sebagai suatu lembaga yang memiliki izin dari pemerintah dalam mengelola informasi perkreditan untuk mendukung pengembangan Fintech syariah di Indonesia. Beberapa manfaat yang beliau tawarkan, antara lain keamanan, saling melindungi, bagi hasil berbasis credit score, inklusi keuangan hingga pengembangan pasar. Semoga dengan launching Pusat Studi Fintech Syariah Tazkia, tazkia dapat memerbikan kontribusi bagi pengembangan Fintech Syariah di dunia. Amin (Anwar G)

Miftahul AnwarPusat Studi Fintech Syariah, Menjawab Tantangan Era Ekonomi Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *