Berita Terbaru

Fintech Syariah, Sebuah Keniscayaan di Masa Depan

No comments

Oleh: Wiku Suryomurti (Dosen dan Direktur Center of Ethical and Responsible Investment STEI Tazkia. Saat ini sedang menempuh studi S3 di bidang Islamic Finance di Adam Smith Business School, University of Glasgow)

Menurut riset terbaru dari MarketInvoice, sebuah perusahaan penyedia layanan keuangan di Inggris menyatakan bahwa mayoritas perusahaan besar di Inggris telah mengadopsi aplikasi keuangan berbasis teknologi atau fintech (financial technology), yang membantu mereka menghemat jutaan pounds setiap tahun. Survey tersebut dilakukan pada bulan Agustus dan September 2017 terhadap sekitar 3000 perusahaan dan pebisnis.

Riset tersebut menemukan bahwa ada sekitar 77 persen perusahaan di Inggris yang telah peduli (aware) tentang produk dan jasa berbasis fintech. Bahkan sekitar 65 persen atau dua pertigadari mereka telah mengadopsi sedikitnya satu aplikasi fintech dalam bisnis mereka. Dan sekitar 19 persen melaporkan menggunakan setidaknya 4 jasa/produk fintech. Menariknya lagi adalah bahwa ada sekitar 11 persen dari perusahaan tersebut yang menyatakan mereka telah menerima atau melakukan pembayaran dengan Bitcoin dan atau mata uang cryptocurrency lain.

Kelebihan dari aplikasi fintech menurut para responden adalah dalam transparansi pengelolaan, user experience, efisiensi waktu dan biaya yang lebih rendah.

Tren di negara maju seperti Inggris tersebut pun dipercaya tidak akan lama lagi terjadi di Indonesia, sebagaimana halnya booming aplikasi transportasi seperti Uber, layanan penginapan seperti Airbnb dan aplikasi pemesanan tiket dan traveling online.

Selain aplikasi peer to peer lending dan crowdfunding, aplikasi teknologi keuangan juga akan merambah sektor bisnis lain, termasuk industri asuransi. Hal ini tidaklah mengherankan karena proses bisnis asuransi pun dapat didisrupsi dengan aplikasi fintech. Contohnya seperti kemudahan dalam pendaftaran asuransi, pengelolaan dana tabarru, serta simplifikasi proses pengajuan klaim. Dan tidak menutup kemungkinan pula tercipta business model baru sektor asuransi syariah dengan aplikasi fintech ini.

Walaupun demikian, sebagai bisnis di bidang jasa keuangan, transaksi dalam fintech pun dapat tersangkut dalam hal-hal yang dilarang dalam prinsip syariah Islam, misalnya Riba, Gharar, Maysir dan Dzulm. Oleh karenanya, para akademisi, pakar fiqh, regulator (pemangku kebijakan), praktisi keuangan dan pelaku startup perlu duduk bersama dan bersinergi untuk terus melakukan kajian, pengembangan serta pengawasan terhadap aplikasi fintech berbasis syariah, khususnya di Indonesia. Wabil khusus dengan tujuan untuk kemaslahatan umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini. Ditambah pula dengan fakta bahwa kalangan kelas menengah muslim (muslim middle class) diprediksi akan mendominasi ekonomi di Indonesia dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang.

Dengan melihat perkembangan tersebut, adalah merupakan sebuah langkah maju dan strategis ketika STEI Tazkia mengadakan seminar bertajuk Arah dan Tantangan Fintech Syariah di Indonesia pada tanggal 30 September 2017 di Aula Alhambra, Masjid Andalusia, Sentul City. Sebagai kampus pelopor Ekonomi Syariah, STEI Tazkia perlu mengambil peran dalam isu penting ini sebagai pengejawantahan tridarma perguruan tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Akhirul kalam, saya mengucapkan selamat atas diluncurkannya Pusat Kajian Fintech Syariah di STEI Tazkia. Semoga dapat turut mendorong pengembangan kajian dan riset tentang Fintech berbasis Syariah di Indonesia. Wallahualam (Anwar G)

Miftahul AnwarFintech Syariah, Sebuah Keniscayaan di Masa Depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *