STEI Tazkia

Andalusia Islamic Centre
Oleh: Humas STEI Tazkia   
19 Januari 2009
andalusia.jpgOase Spiritual dan Intelektual di Jalur Jakarta-Bogor
Kejayaan Islam telah menjadi catatan sejarah yang membanggakan. Termasuk ketika Islam berjaya di Andalusia (sekarang Spanyol selatan). Berdirinya pemerintahan Islam di Andalusia (abad ke-8 M hingga abad ke-15 M) bermula ketika Thariq bin Ziyad bersama pasukannya, berhasil memasuki Spanyol (12/07/711 M/Ramadhan 92 H). Mereka memasuki wilayah itu melewati selat di antara Maroko dan Spanyol yang kemudian dinamai Jabal Thariq (dikenal pula dengan sebutan Gibraltar) di teluk Algeciras. Kala itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah al-Walid dari Bani Umayah.

Di masa kejayaan Islam di Andalusia, pemerintahnya memimpin secara adil serta membawa kehidupan rakyatnya makmur dan aman. Tidak ada diskriminasi atau penindasan termasuk kepada warga minoritas nonmuslim. Semuanya diayomi dan diperlakukan secara baik selama tidak melanggar hukum yang berlaku. Bahkan, orang-orang nonmuslim, juga diberi kesempatan menduduki posisi strategis dalam pemerintahan.

Kejayaan Islam di sana ditandai pula dengan dikuasainya kota-kota penting seperti Toledo, Saragosa, Cordoba, Valencia, Malaga, Seville, Granada dan yang lainnya. Panji-panji dan kebesaran Islam tercermin dari arsitektur bangunan, kebudayaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Banyak para ilmuwan muslim terkemuka lahir di masa itu. Di bidang ilmu Islam dan filsafaf, misalnya, tersebutlah nama: Ibnu Rusyd yang dikenal pula dengan nama Averous (karyanya: “Bidayat al-Mujtahid Wa Nihayah al-Muqtashid”, “Tahafut al-Tahafut”), Ibnu Hazm (karyanya antara lain: Al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam”, “al-Milal wa al-Nihal”), Abu Bakar Ibnu Thufael (karyanya: “Hay bin Yaqdzan”), Abu Bakr Muhamad Ibnu Al-Asyik atau lebih dikenal Ibnu Bajah.

Ilmuwan di bidang Geografi, diantaranya: Ibnu Jubair (karyanya: “Perlawatan ke Negeri-negeri Islam”), Abu Hamid Al-Hazim, dan Abu Ubaid Al-Bakry. Adapun imuwan di bidang sains antara lain Wafid Al-Bakhmi, Khalaf Al-Zahrawi (ahli kedokteran dan ilmu fa’al). Abu Qasim al-Zanrawi (dokter bedah yang karyanya: “Al-Tasrif” setebal 30 jilid), Ibnu Khatimah (ahli penyakit malaria), Abbas Ibnu Farnas (ahli kimia dan astronomi) yang merupakan ilmuwan pertama penemu cara membuat kaca dari batu). Ilmuwan di bidang sejarah dan sosiologi: Ibnu Hazm (karyanya: “Jamharah al-Ahsab” dan “ Rasail fi Fadl Ahlal Andalus”), Ibnu Batutah (sejarahwan yang pernah berkunjung ke Indonesia dan Asia Tenggara), Ibnu Jubair (ahli sejarah dan geografi yang menulis sejarah negeri-negeri muslim Mediterania dan Cicilia), Ibnu Khaldun dari Tunis (seorang ahli filsafat sejarah yang terkenal dengan bukunya Mukaddimah. Tokoh paling terkenal di bidang musik dan seni suara pada saat itu adalah Al-hasan bin Nafi’ yang dijuluki “Zaryab”. Sedangkan di bidang bahasa dan sastra antara lain: Ibn Malik (karyanya: “Alfiyah”), Ibn Khuru, Ibn Al-Haj, Ibn Abdi Rabah (karyanya: “Al-Iqd al-Farid”), Ibn Basam (karyanya: “Al-Dzakirah fi Miahasin al-Jazirah”), dan Al-Fath Ibn al-Haqan (karyanya: “Al-Qalaid”).

Di samping itu, masa kejayaan Islam di Andalusia, terlihat pula dari keberhasilan pembangunan fisik seperti membuka dan memperluas lahan pertanian, mendirikan pabrik-pabrik seperti pabrik tekstil, logam, kulit, dan yang lainnya, membangun pasar, jembatan, pengendalian banjir dan penyimpanan air hujan, sistem irigasi hidrolik menggunakan roda air (water wheel), membangun teropong bintang di Cordova, dan yang lainnya.

Kemajuan pemerintah Islam dalam membangun di berbagai bidang dan sektor, menjadikan Andalusia ketika itu termasuk pusat kebudayaan Islam dan ilmu pengetahuan terbesar setelah Konstantinopel dan Baghdad.

Runtuhnya Kejayaan Islam di Andalusia

Sayangnya, konflik internal yang berujung perebutan kekuasaan terjadi di antara para pemimpin muslim. Umat Islam menjadi lemah. Akhirnya, Raja Ferninand dan isterinya Ratu Isabella berhasil menaklukkan kekuasaan Islam setelah Granada, benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia, jatuh ke tangan bangsa Eropa yang kafir.

Seiring jatuhnya pemerintahan Islam, peninggalan Islam dibakar. Begitu pula kitab-kitab karya Imam Ghazali. Ribuan koleksi perpustakaan umum al Ahkam II dihanyutkan ke sungai. Masjid-masjid dialihfungsikan menjadi gereja. Kabarnya, 2/3 gereja-gereja masyhur (cathedral) di sejumlah kota di Andalusia merupakan bekas masjid. Pemurtadan memang terjadi di mana-mana. Eksekusi massal, pengusiran, serta beragai tindak kesewenang-wenangan harus pula dialami umat Islam. Padahal, ketika pemerintahan Islam berdiri, warga non-muslim yang tunduk pada pemerintah, diperlakukan secara baik. Mereka juga diberi kebebasan memilih agama.

Meskipun demikian bukti  kemajuan peradaban Islam di Andalusia masih terlihat dengan jelas. Hal ini terlihat melalui sisa-sisa bangunan bersejarah dari Toledo hingga Granada, dari Istana Cordova hingga Alhambra.


Energi Andalusia untuk Indonesia

Berbekal semangat kejayaan Islam di Andalusia, alhamdulillah, Yayasan Islamic Centre Andalusia, dibawah pimpinan Dr. Muhammad Syafii Antonio, tengah membangun Andalusia Islamic Center (AIC) yang berlokasi di Sentul City, Jawa Barat.
AIC merupakan wadah pendidikan dan pencerahan umat Islam di Indonesia, khususnya di Jadebotabek. Keberadaannya, sebagai oase spiritual dan intelektual yang dilandasi nilai-nilai Islam yang sejuk, damai, ramah, progresif, mendorong kemajuan ekonomi dan bisnis sebagai bagian dari ibadah, serta pemberdayaan umat berwawasan rahmatan lil ‘aalamiin.

Komitmen AIC mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi dan bisnis secara islami, karena memang, Tazkia Group – salah satu lembaga yang memprakarsai dan mendorong berdirinya AIC – merupakan suatu kelompok institusi yang selama ini konsentrasi di bidang pendidikan ekonomi dan bisnis, pelatihan SDM di bidang kewirausahaan, serta pengembangan wirausaha yang dijiwai nilai-nilai syariah.

Semoga, kehadiran AIC tidak sekadar mengingatkan kita mengenai kejayaan Islam di Andalusia. Kehadirannya, diharapkan menginspirasi dan menstimuli tumbuh semangat untuk mengambil ibrah secara nyata di balik kejayaan Islam Andalusia.

Alhamdulillah, tanggal 17-18 Januari 2009 (20-21 Muharram 1430),  umat Islam bisa menyaksikan langsung kondisi pembangunan AIC dalam acara “Festival Muharram dan Tabligh Akbar”. Acara ini akan diisi oleh sejumlah pembicara kondang antara lain KH. Abdullah Gymnastiar (Agym), Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Wahfiuddin MBA, DR. Muhammad Syafii AntonioH.Irene Handoko .Selain itu acara juga  dimeriahkan oleh persembahan seni dari berbagai nasyid & marawis serta penampilan OPICK, serta kita tampil cantik Islami dan peragaan busana muslim yang akan dipandu oleh Mbak Ratih Sanggarwati dan Rina Gunawan. Acara ini terbuka untuk umum, tidak dipungut bayaran, bahkan terdapat berbagai lomba anak anak yang berhadiah serta layanan baksos khusus untuk anak anak yatim. Semoga Allah meridlai upaya kita. (Spn/MSA)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Pencarian

Registrasi Online

Depan arrow Berita arrow Andalusia Islamic Centre