Rubrik Tanya Jawab-S.Fatma Laela


2016-04-08 09:08:49

Sugiyarti Fatma Laela,M.Buss (Acc),CMA

Puket I STEI Tazkia

 

 

Assalamu´alaikum Ustadzah,

Saya seorang karyawati pada salah satu perusahaan terbuka di Jakarta, bekerja di bagian divisi akuntansi dan keuangan. Tugas utama saya adalah membantu pimpinan dalam menyiapkan laporan keuangan. Tidak jarang saya mengalami konflik kepentingan ketika melakukan penghitungan transaksi  yang menurut hati kecil saya sesuai dengan kebenaran, namun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan perusahaan. Demikian juga ketika saya harus mengungkapkan informasi tentang penurunan laba, kontrak-kontrak yang tidak berjalan  mulus, penurunan nilai atas persediaan barang dagangan dan semacamnya;  di satu sisi memang seperti itulah yang terjadi, hanya saja ketika saya laporkan, muncul kekhawatiran akan berdampak buruk terhadap perusahaan saya. Bagaimana mensikapi kondisi seperti ini, mohon pencerahannya ustadzah

Terima kasih.

 

Ida di Jakarta

 

Wa´alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh

Ibu Ida di Jakarta

yang dirahmati Allah SWT

 

Dalam surat Huud ayat 84 Allah SWT telah menunjukkan kepada kita agar tidak mengurangi takaran dan timbangan, kembali diulang dalam ayat berikutnya (Huud: 85) yang artinya:

 “Dan Syu’aib berkata, “hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan”

 Kemudian Allah memberikan penegasan dalam ayat 86 nya bahwa sisa keuntungan yang halal dalam perdagangan sesudah mencukupkan takaran dan timbangan adalah lebih baik bagi orang-orang beriman.

 Perilaku mengurangi takaran dan timbangan merupakan bentuk kecurangan yang sangat merugikan orang lain untuk kepentingan pribadinya. Manusia sangat mudah terperosok dalam perilaku ini, termasuk di dalamnya mengurangi, menyembunyikan sebagian informasi yang seharusnya diungkapkan. Dalam Alqur’an Allah SWT mengisahkan perilaku kecurangan yang senantiasa muncul dari masa ke masa.

 Ibu Ida yang baik, sebagai seorang akuntan pada prinsipnya kita memiliki 3 amanah utama, terkait:

  1. Pengakuan (recognition) suatu transaksi. Hal ini menyangkut prinsip-prinsip dasar yang menentukan kapan pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian harus dicatat. Terdapat dua metode dalam pengakuan ini, yaitu dasar akrual dan dasar kas. Pada dasar akrual, pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya diakui pada saat kejadian meskipun kas dan setara kas belum diterima atau dibayar. Sebagai contoh, kita sudah harus mengakui adanya tambahan pendapatan ketika terjadi penjualan meskipun penjualannya tidak secara tunai. Sedangkan pada metode dasar kas, transaksi atau peristiwa ekonomi lainnya baru diakui dan dicatat ketika kas sudah diterima atau sudah dibayarkan. Dalam contoh di atas, kita baru akan menuliskan adanya tambahan pendapatan ketika konsumen benar-benar telah membayar. Standar akuntansi syariah di Indonesia mengatur penggunaan dasar akrual untuk tujuan selain pembayaran zakat dan pembagian hasil usaha. 
  2. Pengukuran (measurement) suatu transaksi. Pengukuran ini terkait dengan proses penetapan jumlah uang yang akan dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Secara umum dikenal 2 metode pengukuran, yaitu berdasarkan nilai historis dan nilai wajar. Standar pelaporan untuk lembaga keuangan Islam lebih merekomendasikan untuk menggunakan nilai yang akan direalisasikan jika suatu aktiva terjual secara tunai dalam kondisi bisnis normal pada saat pelaporan keuangan, atau dikenal dengan istilah cash equivalent value. 

Penyajian dan Pengungkapan informasi (disclosure) dalam bentuk laporan keuangan dan laporan pendukung lain yang dibutuhkan oleh semua pemakai. Esensi pelaporan menurut Islam tidak hanya untuk membantu pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi namun juga sebagai proses pertanggungjawaban atas pengelolaan harta yang diamanahkan kepada perusahaan oleh berbagai pihak. Untuk itu perusahaan harus menyajikan dan mengungkapkan informasi-informasi yang diperlukan oleh pemakai baik detail maupun secara agregat, baik menyenangkan (favourable) maupun kurang menyenangkan (unfavourable) sehingga tidak akan menyesatkan para pembaca informasi tersebut. 

Sebagai ilustrasi misalnya PT X  menerapkan dua model penjualan  dalam usahanya, yaitu secara tunai dan kredit. Untuk menarik minat pelanggan, PT X menggenjot penjualan kreditnya melalui berbagai macam progam, sehingga besarnya porsi penjualan kredit melebihi penjualan tunainya. Kondisi ini akan telah menyebabkan jumlah piutang meningkat drastic, yang dampaknya akan mempercantik posisi keuangan perusahaan karena asetnya menjadi besar. Dengan berpegang pada konsep pengukuran menurut Islam, maka seharusnya PT X juga menghitung prakiraan jumlah piutang yang tidak lancar atau bahkan macet. Tentu saja prakiraan ini didasarkan pada analisis yang mendalam, seperti mempelajari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, memonitor angsuran, berkomunikasi dengan pihak yang berhutang, memberikan kelonggaran pelunasan jika diperlukan dan lain-lain. Seandainya berdasarkan analisis piutang tersebut, kemungkinan jumlah piutang tidak tertagih cukup besar, maka tentu saja nilai piutang bersih (piutang netto) menjadi menurun. Kondisi tidak menyenangkan ini tetap harus disajikan. Untuk mendukung penyajian cadangan kerugian piutang tersebut, PT X  dapat mengungkapkan upaya-upaya manajemen piutang yang telah dilakukan beserta capaianya.

Kondisi yang dihadapi Ibu Ida kurang lebih menyangkut ketiga tugas utama di atas. Dengan berpatokan kepada standar akuntansi syariah yang berlaku, bagaimana Ibu mengakui, mengukur dan melaporkan transaksi, insya allah Ibu berpihak kepada kebenaran. Lebih spesifik kegalauan Ibu dalam mengungkapkan informasi yang benar tapi kurang menyenangkan semoga segera lenyap dengan mengingat kembali akan konsep pertanggung jawaban (accountability) dalam Islam.

Konsep Islam tentang akuntabilitas bukan sekedar pertanggung jawaban kepada sesama makhluk (dalam hal ini kepada pimpinan, pemilik modal, pemberi pinjaman dan lain-lainya), namun pada akhirnya kita harus mempertanggungjawabkan semua amanah kepada Allah SWT.  Implikasi dari keyakinan ini adalah bahwa kita (apapun posisinya; staf, kasi, kabag, kadiv, manajer) harus bertanggung jawab kepada semua pihak baik internal maupun ekternal perusahaan dengan cara menyediakan pelaporan akutansi dan keuangan yang benar. Ketika sudah bertindak benar, dan ternyata itu merugikan dari sudut pandang manusia, maka sisa keuntungan adalah sudah dijamin oleh Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam surat Huud ayat 86 di atas. Allah SWT akan melihat bagaimana proses dan ikhtiar yang kita lakukan, bukan hanya pada hasil yang diperoleh, sebagaimana yang difirmankan dalam surat at Taubah ayat 105 yang artinya:

“Dan katakanlah bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu ...”

Sukses untuk Ibu Ida dengan prinsip-prinsip mulianya

Allahu a’lam wa a’la

© 2017 Tazkia Markazia.